Resume materi hari kedua
Pemateri 1:Ainun Najib Ahli IT indonesia
Tema:Perguruan Tinggi di Era Digital dan Revolusi Industri
Sekarang AI sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia bisa memberi rekomendasi video YouTube, rekomendasi belanja, hingga mengoptimasi rute di Google Maps. AI tidak hanya membantu hal-hal praktis, tetapi juga bisa diajak ngobrol bahkan dijadikan tempat curhat. Meski begitu, para ahli sudah mengidentifikasi sejak lama bahwa dalam jangka panjang AI akan semakin canggih, hingga hampir semua pekerjaan bisa diotomatisasi dan bahkan dieliminasi.
Salah satu tokoh yang menjelaskan hal ini adalah Pak Kaifulli, yang memaparkan sebuah kuadran untuk membantu kita mengantisipasi dan beradaptasi di era AI. Menariknya, kuadran ini masih relevan sampai sekarang dan bisa menjadi pegangan jangka panjang. Intinya, secanggih apa pun AI, ada dua hal yang tidak akan pernah bisa menggantikan manusia.
Yang pertama adalah kreativitas. Ini mencakup kemampuan berpikir kreatif, menciptakan sesuatu yang baru, dan merancang strategi. AI memang cerdas, tapi tidak cerdik. Ia hanya bisa memproses data yang sudah ada, menganalisis, merangkum, dan meniru. AI tidak mampu menciptakan ide yang benar-benar orisinal. Dalam keyakinan Islam, khususnya Nahdlatul Ulama, hal ini sejalan dengan konsep ilmu laduni, yaitu ilmu yang datang langsung dari Allah kepada manusia, bukan dari apa yang sudah ada di bumi. Inilah yang membuat kreativitas menjadi ranah manusia yang tidak tergantikan.
Yang kedua adalah rasa kemanusiaan dan empati. AI bisa meniru ucapan penuh perhatian atau bahkan tampak memahami, tetapi itu hanyalah tiruan. Rasa kemanusiaan sejati lahir dari hati dan ketulusan. Contoh sederhana adalah senyum: senyum manusia yang tulus akan terlihat dari ekspresi mata, sementara senyum yang palsu hanya menggerakkan bibir. AI dapat meniru bahasa atau ekspresi, tetapi tidak benar-benar menjiwai empati itu sendiri.
Dari dua hal ini, kuadran pekerjaan di era AI dapat digambarkan. Pekerjaan yang tidak membutuhkan kreativitas dan empati akan sepenuhnya terotomatisasi. Misalnya pengiriman logistik dari titik A ke titik B, yang hanya soal memindahkan barang tanpa perlu kreativitas atau rasa kemanusiaan. Contoh nyatanya sudah terlihat: gudang Amazon kini dioperasikan sepenuhnya oleh robot, truk kontainer tanpa sopir telah diuji coba di Singapura, bahkan layanan transportasi seperti Uber di Amerika mulai mencoba mobil tanpa pengemudi.
Sebaliknya, pekerjaan yang membutuhkan kreativitas sekaligus empati akan tetap relevan di masa depan. Bidang seni, pendidikan, konseling, dan kepemimpinan adalah contoh yang menuntut dua hal tersebut. Karena itu, untuk menghadapi era AI, manusia harus berfokus membangun diri dalam dua dimensi utama: kemampuan berpikir kreatif dan kemampuan merasakan serta menumbuhkan empati kemanusiaan.
Mengapa kampus NU harus memimpin?
karena:
•Kemaslahatan
teknologi untuk martabat manusia
•Pengarah arus
Mengawal etika,akses,dan dampak sosial
•Kompas NU
teknologi menguatkan akhlak,pelayanan dan keadilan
Pemateri 2: KH Ma’ruf khozin ketua Aswaja. center,PWNU Jawa Timur
Tema:Mahasiswa Unusa sebagai generasi Aswaja An-Nadhliyah
Tadi sudah diawali moderator tentang makna Ahlus Sunnah wal Jamaah. Secara redaksi, istilah ini memang menimbulkan banyak perdebatan. Semua sepakat bahwa ahlun berarti pengikut, sedangkan al-jamaah bermakna umat Islam. Namun, yang menjadi titik krusial adalah pemahaman tentang kata sunnah.
Menurut Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, sunnah di sini bukan sekadar perbuatan Nabi sebagaimana yang dipelajari dalam ilmu hadis, dan bukan pula sunnah dalam hukum fikih. Sunnah yang dimaksud adalah at-thariqah al-mardhiyyah al-masyrû‘ah, yaitu metode beragama yang ditempuh oleh Nabi, para sahabat, serta imam-imam mazhab. Inilah letak perbedaan pemahaman sunnah antara NU dan kelompok lain.
Dalam penafsiran, Ahlus Sunnah wal Jamaah dimaknai sebagai kelompok mayoritas umat Islam. Mayoritas itu tampak dari pengikut empat mazhab besar—Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali—yang tersebar di berbagai wilayah. Di Mesir dan Turki misalnya, banyak yang menganut Hanafi. Di Suriah dan sebagian Asia, ditemukan pengikut Syafi’i seperti kita di NU. Jadi NU tidak sendirian, melainkan bagian dari arus besar mayoritas Islam dunia.
Perbedaan lain tampak dalam sistem berpikir. Dalam akidah, NU mengikuti ajaran Imam Asy’ari yang dikenal dengan aqidah Azhariyyah. Dalam praktiknya, orang NU berpegang pada prinsip tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang). NU menolak sikap ekstrem, baik yang terlalu keras maupun terlalu longgar, karena yang bisa bertahan lama adalah jalan tengah yang moderat. Sikap ini juga melahirkan penghargaan tidak hanya kepada sesama muslim, tetapi juga kepada non-muslim, sesuai semangat rahmatan lil alamin.
Ada pula tanda-tanda amaliah yang khas. Misalnya, orang NU biasanya membaca qunut saat salat Subuh. Hal ini berdasar riwayat sahabat Anas yang menyebut Rasulullah berqunut dalam salat Subuh (riwayat Imam Ahmad). Tradisi lain adalah membaca Yasin pada malam Jumat, yang dilakukan bersama-sama di masjid atau lingkungan masyarakat, sebagai doa untuk guru, orang tua, dan kerabat yang telah wafat. Selain itu, orang NU juga terbiasa berziarah kubur, membaca Al-Qur’an, dan mendoakan orang-orang yang sudah meninggal, karena semua itu memiliki dasar dalam syariat.
Dengan demikian, NU tidak hanya diukur dari pengakuan atau identitas formal. Yang paling penting adalah menjiwai sikap moderat, toleran, seimbang, serta mengamalkan tradisi yang sesuai dengan dalil. Inilah yang membentuk NU sebagai bagian dari mayoritas umat Islam sekaligus penjaga nilai rahmatan lil alamin.
Pemateri 3:Muslikha Nourma Rhomadhoni, S.KM., M.kes. -Kaprodi D4 K3
Pengenalan Keselamatan, Kesehatan kerja, dan Lingkungan (K3L) di Perguruan Tinggi
Tahun 2045 nanti, mudah-mudahan Indonesia bisa menjadi negara maju, berdaya saing global, berkelanjutan, dan sejahtera. Doa ini tentu menjadi harapan kita bersama. Sebagai mahasiswa baru, kita semua adalah generasi yang akan ikut serta membangun Indonesia menuju cita-cita besar tersebut. Salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam proses itu adalah penerapan K3L, yaitu Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan.
Tujuan dari penerapan K3L adalah mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu berhadapan dengan potensi bahaya dan risiko yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan maupun keselamatan. Karena itu, sebagai mahasiswa di UNUSA, kita harus berusaha menghindari bahaya, mengurangi risiko, serta melindungi diri sendiri maupun orang lain agar tetap sehat dan selamat.
Selain itu, K3L juga bertujuan untuk melindungi lingkungan dari pencemaran dan kerusakan. Setiap individu memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan agar tetap aman dan jauh dari pencemaran. Kita bisa melihat sendiri bagaimana pencemaran lingkungan terjadi di sekitar kita, yang sering kali berasal dari aktivitas industri. Meskipun industri memberikan banyak manfaat, tetap ada kewajiban untuk menjaga kelestarian lingkungan. Mahasiswa pun dapat ikut berperan, misalnya tidak diam saja ketika melihat pencemaran, serta memanfaatkan media sosial dengan bijak agar isu-isu pencemaran tidak diabaikan begitu saja, melainkan disuarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Prinsip dasar penerapan K3L adalah pencegahan lebih baik daripada penanggulangan. Bahaya memang tidak bisa sepenuhnya dihindari karena dalam kehidupan sehari-hari kita akan selalu berhadapan dengan berbagai bentuk risiko, baik itu fisik, kimia, biologi, psikososial, maupun mekanik. Namun, kita harus tetap waspada dengan cara mencegah dan menanggulanginya sejak awal.
Di UNUSA sendiri sudah ada berbagai SOP yang harus dipatuhi, misalnya saat memasuki auditorium, laboratorium, atau ruang perkuliahan. Setiap mahasiswa perlu memahami potensi bahaya di tempat tersebut, cara keluar saat darurat, serta aturan yang berlaku di dalamnya. Ketika berada di laboratorium, misalnya, mahasiswa wajib mengikuti aturan keselamatan yang ada, mulai dari penggunaan alat, penempatan bahan, hingga pelaporan kejadian. Semua itu bukan sekadar formalitas, tetapi benar-benar menjadi pedoman untuk menjaga keselamatan bersama.
Strategi penerapan K3L biasanya dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan. Misalnya ketika mahasiswa memasuki laboratorium, mereka akan diberikan instruksi mengenai apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum praktikum. Begitu juga saat kunjungan industri, mahasiswa akan mendapat arahan tentang keselamatan dan etika di perusahaan. Hal ini penting agar mahasiswa dapat lebih waspada terhadap potensi bahaya yang ada.
Penerapan K3L juga terkait dengan digitalisasi, penguatan regulasi, serta pembudayaan keselamatan di tingkat nasional. Semua ini mendukung terbentuknya generasi yang produktif dan sehat. Produktif dan sehat berarti mahasiswa mampu menjalani masa studi dengan baik, menyelesaikan kuliah tepat waktu, berprestasi dalam bidang akademik maupun non-akademik, aktif dalam organisasi, atau bahkan mengembangkan usaha. Semua cita-cita itu hanya bisa dicapai jika mahasiswa menjaga kondisi fisik dan mentalnya tetap sehat selama masa kuliah.
Karena itu, penerapan K3L harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bahaya yang muncul di sekitar kita bisa berdampak langsung maupun dalam jangka panjang, bahkan dapat mengganggu tujuan utama kita sebagai mahasiswa. Dengan menjaga kesehatan, keselamatan, dan lingkungan, kita dapat lebih fokus mencapai IPK yang tinggi, aktif dalam organisasi, berprestasi, serta meraih cita-cita lainnya.
lihat juga blog teman saya:
https://nadiatussholeha.blogspot.com/2025/09/resume-materi-pkkmb-day-2.html
dan jangan lupa ikuti sosial media kita
https://www.facebook.com/unusaofficialfb
https://www.instagram.com/unusa_official/
•youtube
https://www.youtube.com/@unusa_official
•twitter (X)
https://x.com/unusa_official?lang=en
•tiktok
https://www.tiktok.com/@unusa_official?_t=ZS-8zMXH2qhFI8&_r=1

Komentar
Posting Komentar